anoqnews kik yanto
  • 19/05/2024
  • Last Update 02/05/2024 20:35
  • Indonesia

Cerdas Berpolitik Pemilih Milenial

Cerdas Berpolitik Pemilih Milenial

BELITUNG, ANOQ NEWS – Mengapa “siklus keluhan politik lima tahunan” terus berulang dalam lima tahun sekali? Bagaimana cara memutus siklus tersebut? Rakyat-pemilih perlu memutus mata rantai tradisi politik turun-temurun, dan yang pada pokoknya memanjakan kekuatan dominan di suatu daerah pemilihan. Sebagai gantinya, secara kuat mereka perlu mengubah orientasi pilihan dengan pertimbangan visi dan misi serta program kerja yang ditawarkan. Apa itu cukup? Tidak juga, jika tidak didasari oleh pertimbangan lain, yang selama ini dikenal sebagai “rekam jejak” sang calon.

Orientasi masyarakat-pemilih yang memilih didasarkan faktor-faktor subjektif, juga patut jadi bahan pertimbangan. Kemapanan berpikir, yang dalam tiap Pemilu memilih berdasarkan “tradisi turun-temurun”, selain menghambat perubahan, juga justru melestarikan oligark politik di suatu daerah pemilihan. Pemilih harus membuka peluang-peluang sosok lain yang hendak dipilihnya, menurut pertimbangan visi, misi, program kerja, dan rekam jejaknya.

Andai sulit diperoleh sosok alternatif, rakyat-pemilih perlu juga membangun komitmen dengan calon yang tersedia, yang dalam batas-batas minimal relatif lebih baik atau bahkan yang selama ini memiliki rekam jejak yang baik, lalu didorong untuk membuat perubahan. Pengandaian ini berangkat dari asumsi bahwa perubahan tidak seluruhnya bersumber dari luar kekuasaan dan berasal dari internal kekuasaan. Tetapi dari juga bersumber dari pemikiran progresif cerdas kaum milenial di era milenial ini.

Apakah itu cukup? Belum, menurutku. Mereka wajib menolak praktik politik uang. Praktik ini, seperti banyak orang mengakui, merusak kemurnian suara rakyat, yang karena memilih tidak berdasarkan pertimbangan-pertimbangan objektif tadi. Mungkinkah? Terpulang kepada masyarakat-pemilih sendiri. Jangan sampai, mereka ingin perubahan, lebih tepat ingin memutus mata rantai keluhan, namun tidak hendak berkorban untuk kepentingan yang lebih luas, dan dalam jangka panjang.

Menumbuhkan kesadaran kolektif pemilih. Secara individual, pemilih tidak banyak berarti jika tidak dibarengi kesadaran bahwa di balik prinsip “seorang memilih satu kali dan bernilai satu suara” tersembul kekuatan besar, yang kekuatan besar tersebut menghimpun posisi tawar politik yang tinggi serta mampu mengubah arah konstelasi politik suatu daerah pemilihan. Masih jadi problem besar kita, masyarakat-pemilih kita belum menyadari bahwa “begitulah pemimpinnya, begitulah karena pemilihnya.” Potensi ini dapat didayagunakan, sekali lagi melalui kesadaran kolektif, dan yang mampu memutus mata rantai keluhan, melalui tendangan para pemilih milenial dari bilik TPS kepada oligark di wilayah setempat. (Afan)

Tetap terkini dengan informasi terbaru, ikuti kikyanto.com di Google News

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *