anoqnews kik yanto
  • 19/05/2024
  • Last Update 02/05/2024 20:35
  • Indonesia

Padang Buang Anak

Padang Buang Anak

PADANG BUANG ANAK

Jaman bariq e kire-kire abad XIII, de Belitong maq ngalameq ‘Barat ljau’, panas panjang noq ngelebe eq dari panas-panas biase e, dengan sendiriq e de mane-mane kekurangan aiq minum.

Tesebutla kisa surang ibuq name e Dambe noq ngipaq anaq agiq kecik, baru pandai ngerangkong bejalan hiler sineq nyusorek kaki Gunong Tajam. Maksud e naq ngencariq aiq minum sambil mawaq sikoq gerebok karene aus dan lela e die berenti dan dudokla die de atas sebua batu. Ndaq lamaq die dudok de atas batu teq, teliatla ulee sikoq kuraq-kuraq noq agiq bejalan, lalu piker e lebe baik ku ikutek kuraq-kuraq ne pasti ahere die sampai ke tempat noq beaiq. Tapi kiape kan anaq e teq. Ndaq giq bepiker panjang die cepat- ceat bekemas dan anaqe detinggalanne dekat batu tempat die dudok dan de pagar e kan batu kan kayu-kayu noq kire-kire anaq e ndaq dapat ngerangkong ke mane-mane dan netap de situq sampai die baliq agiq piker e.

Uda itu die pun bejalan ngikutek kuraq-kuraq teq dan la berape lamaq die bejalan sampai la die de sikoq lekok noq agiq beaiq. Aiq teq keluar dari cela sikoq batu. Langsung de isiq e gereboknye dan die pun minumla sepuas – puas e. La uda itu die pun bejalan balik maksud e naq kembali ke tempat anaqe noq dettinggalan ne teq.

Tapi dengan susa paya die bejalan hamper naq tebenam matahari barula die nemuiek tempat anaqe noq detinggalan e teq. Alangka keciwe e die, karene anaqe ndaq giq ade de situq, ndaq tau ke mane pegi e. Dekat batu teq teliat isaq tapak kaki benatang gede dan cucoran dara. Lalu deikut teq pulaq jejak benatang teq. Benatang to nuju ke Gunong Tajam. Tapi malang bagi e anaq noq decariqe teq ndaq ketemu juaq. Dan ahere kembalila die ke tempat kediaman ne dengan bederai aiq mate. Make tempat itu teq dename eq la dari urang ‘Padang Muang Anak’.

 

 

PADANG BUANG ANAK 

Pada zaman dahulu kira-kira abad Xlll Pulau Belitung pernah mengalami “Barat ljau’, kemarau panjang yang melebihi kemarau-kemarau biasa. Dengan sendirinya di mana-mana kekurangan air minum.

Tersebutlah kisah seorang ibu Bernama Dambe yang mendukung seorang anak yang masih kecil (baru pandai merangkak) berjalan kian kemari menyusuri kaki Gunung Tajam. Dengan maksud mencari air minum sambil membawa sebuah gerebok (buah kelapa yang dikosongkan). Karena haus dan Ielah ia berhenti berjalan dan duduklah ia di atas sebuah batu. Setelah agak lama ia duduk di atas batu itu, terlihat olehnya seekor kura-kura yang sedang berjalan, lalu ia berpikir lcbih baik saya ikuti kura-kura ini tentu ia akhirnya akan sampai di tempat yang berair. Tetapi bagaimana pula dengan anak saya. Dengan tidak berpikir panjang ia pun cepat-cepat berkemas dan anaknya ditinggalnya di dekat batu tempat ia duduk dan dipagarnya dengan batu dan kayu agar anaknya tidak dapat merangkak ke mana-mana dan tetap di situ sampai ia kembali.

Kemudian ia berjalan mengikuti kura-kura dan setelah beberapa lama ia berjalan bertemulah ia ke suatu lembah yang berair. Air itu keluar dari celah sebuah batu. Langsung diisinya gereboknya dan ia pun minumlah sepuas- puasnya. Setelah itu, ia pun berjalan kembali dengan maksud kembali ke tempat anaknya tadi. Tetapi dengan susah payah ia berjalan dan hampir terbenam matahari barulah ia bertemu tempat anaknya yang ditinggalkan itu. Tetapi alangkah kecewanya ia karena anaknya tidak ada di situ dan tidak tahu ke mana perginya. Di dekat batu itu terdapat bekas tapak kaki binatang yang besar dan tetesan darah. Lalu diikutinya pula jejak binatang itu. Binatang itu menuju ke Gunung Tajam. Tetapi malang baginya anaknya yang dicari tidak juga bertemu. Akhirnya, kembalilah ia ke tempat kediamannya (ladangnya) dengan cucuran air mata. Maka tempat itu dinamakan orang ‘Padang Buang Anak’.

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *